Halaman

    Social Items

🪙 EMAS ACEH Rp 7.760.000/mayam ◆ 🕌 SHOLAT BANDA ACEH Memuat... ◆ 🌤️ CUACA Memuat... ◆ 🕐 UPDATE Memuat...

 


Polda Aceh Mulai Selidiki Kericuhan Saat Zikir Hari Damai Aceh di Masjid Raya

BANDA ACEH – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mulai melakukan penyelidikan terkait kericuhan yang terjadi dalam rangkaian kegiatan zikir dan doa memperingati 21 tahun Hari Damai Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Kericuhan tersebut terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, saat masyarakat berkumpul untuk mengikuti kegiatan zikir dan doa yang digelar dalam rangka memperingati momentum perdamaian Aceh.

Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan mengatakan, pihaknya tengah mengumpulkan informasi untuk mengetahui secara jelas rangkaian kejadian yang memicu kericuhan tersebut.

“Dengan kejadian yang kemarin, Polda Aceh sedang melakukan penyelidikan,” kata Ruddi kepada wartawan usai mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Banda Aceh, Senin (17/8/2026).

Meski sempat terjadi keributan, Kapolda memastikan kondisi keamanan Aceh secara umum tetap terkendali. Situasi di lokasi disebut dapat kembali normal dalam waktu relatif singkat.

Ruddi menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, tokoh agama, TNI, pemerintah daerah serta seluruh pihak yang ikut membantu menjaga keamanan setelah kejadian tersebut.

Menurutnya, sinergi berbagai unsur menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi Aceh agar tetap aman dan kondusif, terutama setelah munculnya insiden di tengah momentum peringatan perdamaian.

“Walaupun ada hal yang tidak kita inginkan, tetapi tidak lama, langsung kondusif,” ujar Ruddi.

Polisi dan Forkopimda Lakukan Evaluasi

Polda Aceh bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) juga akan melakukan evaluasi secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan di Aceh.

Kapolda menyebut analisis dan evaluasi akan dilakukan setiap bulan dengan melibatkan unsur-unsur terkait.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan sekaligus memastikan setiap kegiatan masyarakat dapat berlangsung secara tertib dan damai.

“Kita setiap bulan akan melaksanakan kegiatan analisis dan evaluasi bersama-sama Forum Pimpinan Daerah untuk menciptakan wilayah Aceh ini selalu aman, tenteram, dan damai,” kata Ruddi.

Sejumlah Fasilitas Masjid Dilaporkan Rusak

Sebelumnya, pengelola Masjid Raya Baiturrahman juga menyayangkan terjadinya kericuhan setelah kegiatan zikir dan doa. Sejumlah fasilitas masjid dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk tiang dan bendera.

Pihak pengelola menegaskan bahwa Masjid Raya Baiturrahman merupakan tempat ibadah sekaligus simbol penting bagi masyarakat Aceh. Karena itu, setiap kegiatan yang berlangsung di kawasan tersebut diharapkan tetap menjaga ketertiban, kebersihan dan kehormatan tempat ibadah.

Pengelola masjid juga meminta panitia kegiatan bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas yang terjadi serta melakukan koordinasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Di sisi lain, petugas masjid harus melakukan pembersihan di sejumlah area setelah kegiatan berakhir karena ditemukan sampah yang berserakan di halaman dan saluran sekitar masjid.

Polda Aceh kini masih melakukan penyelidikan terhadap kericuhan tersebut. Masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga suasana damai yang telah berlangsung di Aceh selama lebih dari dua dekade.

Momentum Hari Damai Aceh ke-21 diharapkan menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat.

Polda Aceh Mulai Selidiki Kericuhan Saat Zikir Hari Damai Aceh di Masjid Raya

inisial news

 


Polda Aceh Mulai Selidiki Kericuhan Saat Zikir Hari Damai Aceh di Masjid Raya

BANDA ACEH – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh mulai melakukan penyelidikan terkait kericuhan yang terjadi dalam rangkaian kegiatan zikir dan doa memperingati 21 tahun Hari Damai Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Kericuhan tersebut terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, saat masyarakat berkumpul untuk mengikuti kegiatan zikir dan doa yang digelar dalam rangka memperingati momentum perdamaian Aceh.

Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan mengatakan, pihaknya tengah mengumpulkan informasi untuk mengetahui secara jelas rangkaian kejadian yang memicu kericuhan tersebut.

“Dengan kejadian yang kemarin, Polda Aceh sedang melakukan penyelidikan,” kata Ruddi kepada wartawan usai mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Banda Aceh, Senin (17/8/2026).

Meski sempat terjadi keributan, Kapolda memastikan kondisi keamanan Aceh secara umum tetap terkendali. Situasi di lokasi disebut dapat kembali normal dalam waktu relatif singkat.

Ruddi menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, tokoh agama, TNI, pemerintah daerah serta seluruh pihak yang ikut membantu menjaga keamanan setelah kejadian tersebut.

Menurutnya, sinergi berbagai unsur menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi Aceh agar tetap aman dan kondusif, terutama setelah munculnya insiden di tengah momentum peringatan perdamaian.

“Walaupun ada hal yang tidak kita inginkan, tetapi tidak lama, langsung kondusif,” ujar Ruddi.

Polisi dan Forkopimda Lakukan Evaluasi

Polda Aceh bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) juga akan melakukan evaluasi secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan di Aceh.

Kapolda menyebut analisis dan evaluasi akan dilakukan setiap bulan dengan melibatkan unsur-unsur terkait.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan sekaligus memastikan setiap kegiatan masyarakat dapat berlangsung secara tertib dan damai.

“Kita setiap bulan akan melaksanakan kegiatan analisis dan evaluasi bersama-sama Forum Pimpinan Daerah untuk menciptakan wilayah Aceh ini selalu aman, tenteram, dan damai,” kata Ruddi.

Sejumlah Fasilitas Masjid Dilaporkan Rusak

Sebelumnya, pengelola Masjid Raya Baiturrahman juga menyayangkan terjadinya kericuhan setelah kegiatan zikir dan doa. Sejumlah fasilitas masjid dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk tiang dan bendera.

Pihak pengelola menegaskan bahwa Masjid Raya Baiturrahman merupakan tempat ibadah sekaligus simbol penting bagi masyarakat Aceh. Karena itu, setiap kegiatan yang berlangsung di kawasan tersebut diharapkan tetap menjaga ketertiban, kebersihan dan kehormatan tempat ibadah.

Pengelola masjid juga meminta panitia kegiatan bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas yang terjadi serta melakukan koordinasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Di sisi lain, petugas masjid harus melakukan pembersihan di sejumlah area setelah kegiatan berakhir karena ditemukan sampah yang berserakan di halaman dan saluran sekitar masjid.

Polda Aceh kini masih melakukan penyelidikan terhadap kericuhan tersebut. Masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga suasana damai yang telah berlangsung di Aceh selama lebih dari dua dekade.

Momentum Hari Damai Aceh ke-21 diharapkan menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat.

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.