Halaman

    Social Items

Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

 


Bener Meriah Seorang warga Desa Perumpakan Benjadi, Kecamatan Mesidah Kabupaten Bener Meriah, Nur Ijah (51) meninggal dunia akibat tertimpa pohon petai. Pohon tersebut tumbang akibat angin kencang. "Saat kejadian korban bersama dua anaknya sedang memetik kopi di kebunnya. Tiba-tiba angin kencang melanda dan pohon petai di lokasi tumbang," kata Kapolres Bener Meriah AKBP Indra Novianto kepada wartawan, Senin (30/5/2022)

Insiden itu terjadi pada Minggu (29/5) kemarin. Indra mengatakan, pada saat kayu jatuh, salah satu cabangnya mengenai kepala korban sehingga korban tak sadarkan diri.

Usai kejadian, korban dibawa ke Puskesmas Mesidah dengan menggunakan mobil warga. Korban disebut mengalami luka di bagian kepala.

"Korban dikebumikan hari ini di TPU Kampung Perumpakan Benjadi," jelas Indra

Angin kencang yang melanda Bener Meriah juga menyebabkan satu baliho rubuh dan menimpa seorang anggota polisi. Korban Bripka Zainal Arifin mengalami luka di kening, dagu dan punggung.

"Salah satu anggota kita Bripka Zainal mengalami kecelakaan yang diakibatkan oleh rubuhnya satu baliho yang tertiup angin kencang," ujar Indra.

Bripka Zainal merupakan anggota Polsek Bandar. Kejadian tersebut terjadi di depan Polsek pada hari Minggu kemarin. Saat kejadian, Zainal hendak pulang ke Polsek dengan menggunakan sepeda motor.

Tiba-tiba baliho ukuran 4X6 meter yang dipasang di jalan Pondok Baru-Samar Kilang jatuh dan menimpa bagian belakang motor Zainal. Akibat, Zainal dan motor terlempar ke dalam parit di depan Polsek.

"Berdasarkan rekam medis UGD Rumah Sakit Muyang Kute korban mengalami luka robek di bagian kening dan luka Robek di bagian dagu, dan puka lecet pada bagian punggung dan nyeri pada bagian pinggang belakang," sebutnya.

Warga diimbau untuk mewaspadai cuaca ekstrim dan angin kencang yang melanda seluruh Kabupaten Bener Meriah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah di Aceh.

1 Warga Aceh Tewas, Tertimpa Pohon, Polisi Luka Kena Baliho

 



ACEH ONE - LHOKSUKON - Forum Interaksi Mahahasiswa (FIMA) Kecamatan Paya Bakong - Aceh Utara menyerahkan santunan dan paket sembako kepada anak yatim/piatu dan fakir miskin di 39 desa dalam kecamatan setempat (30/04/2022)

Pembagian itu dilakukan oleh FIMA Paya Bakong sebagai bentuk kepedulian terhadap anak yatim/piatu dan masyarakat miskin..

Kita menggalang dana selama 20 hari dari 8 April 2022 Sampai 28 april 2022 ujar Ketua Panitia Muhammad mirza kepada media sabtu (30/4/2022).

Disebutkan bantuan tersebut diserahkan langsung oleh mahasiswa yang tergabung dalam FIMA kepada anak yatim/piatu dan fakir miskin, bantuan tersebut berupa 48 santunan kepada anak yatim/piatu, dan 50 paket sembako kepada fakir miskin dan anak yatim/piatu.

Adapun kegiatan ini turut di hadiri oleh muspika dan muspika plus beserta tokoh masyarakat kecamatan paya bakong.



Mewakili Keluarga Besar Forum Interaksi Mahasiswa (FIMA) Kecamatan Paya Bakong, kami mengucapkan ribuan terimakasih kepada seluruh pihak donatur baik muspika Paya Bakong, Forum Geuchik Paya Bakong, kemudian dari sejumlah perusahaan yang berdomisili di kecamatan Paya Bakong dan Baitul Mal Aceh utara,” ujar ketua FIMA Andi Muhammad Reza

Andi juga menyebutkan, pihaknya berharap dengan adanya program inisiatif ini dari mahasiswa setempat yaitu pembagian santunan dan paket sembako ini dapat meringankan beban anak yatim/piatu dan masyarakat miskin, di tengah pandemi Covid-19 serta menyambut Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah.

"Semoga kegiatan sosial yang kami lakukan ini dapat berlanjut di bulan ramadhan yang akan datang" pungkas Andi Muhammad Reza.


Sumber Andi Saputra

Forum Interaksi Mahahasiswa (FIMA) Kecamatan Paya Bakong - Aceh Utara menyerahkan santunan dan paket sembako kepada anak yatim/piatu dan fakir miskin di 39 desa dalam kecamatan setempat

 


HIKAYAT BUMOE BREUEH SIGUPAI: DARI KESATRIA KE ABDYA

Oleh : Rozal Nawafil

Tanggal 10 April merupakan momen bersejarah bagi Kabupaten Aceh Barat Daya. Dua dasawarsa yang lalu pada Rabu, 10 April 2002, Kab. Aceh Barat Daya resmi dimekarkan dari Kab. Aceh Selatan melalui UU No. 4 Tahun 2002. Tahun ini, kabupaten yang sering disingkat ABDYA ini memperingati Hari Jadi nya yang ke-20 tahun.

Di usianya yang ke-20 tahun, ABDYA telah melewati perjalanan penyelenggaraan pemerintahan dan berbagai pembangunannya dengan penuh suka maupun duka. Proses tersebut dilakukan dan dilalui seluruh stakeholder dan masyarakat ABDYA dengan semangat kesatuan dan kebersamaan sesuai motto ABDYA “Sapeue Kheuen Sahou Langkah” (Seiya Sekata Melangkah Bersama).

Sebelum berdiri sebagai kabupaten otonom, kelahiran ABDYA diawali proses panjang sejarah perjuangan para kesatria, pendiri dan pejuang pengembangan ABDYA sejak masa awal hadirnya koloni atau komunitas masyarakat di wilayah ini. Tulisan yang lengkap membahas hal ini salah satunya adalah buku Negeri Dan Rakyat Aceh Barat Daya Dalam Lintasan Sejarah (2009). Tinta emas proses inilah yang tertarik kami angkat kembali dalam momentum HUT ABDYA ke-20 untuk dibagikan kepada publik sebagai apresiasi kepada para kesatria, pendiri dan pejuangan pengembangan ABDYA serta menjadi inspirasi dan motivasi bagi pemuda dan pemudi ABDYA saat ini dan di masa mendatang.

BUMOE BREUEH SIGUPAI SEBELUM KEMERDEKAAN RI

Sebelum perang dunia, wilayah ABDYA dulunya merupakan lintasan wilayah barat Kesultanan Aceh yang dipimpin oleh tiap-tiap uleebalang sebagai penerima kekuasaan langsung dari Sultan Aceh.  Wilayah barat Kesultanan Aceh ini mulai dibuka pada Abad ke-16 M di masa pemerintahan Sultan Saidil Mukamil (1588-1604 M), kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) dengan mendatangkan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie ke pesisir barat Aceh. Kemudian sejak tahun 1665 M, terjadi pula migrasi penduduk Minang dari Pariaman; Rao, Pasaman; Kampar dan wilayah lainnya di Minangkabau Darul Qarar ke pesisir barat selatan Aceh Darussalam akibat terjadinya Traktat Painan antara Penghulu Adat Minangkabau dengan VOC di tahun 1662 M. Hal ini membuat orang Minang yang tidak mau tunduk dengan Belanda dan keturunan hulubalang Aceh yang sebelumnya mengontrol Pariaman berdiaspora ke pesisir barat selatan Aceh bersamaan dengan kedatangan para petani dan orang-orang Aceh Rayeuk dan Pidie ke wilayah ini.

Akibat diaspora tersebut, terbentuklah dua koloni atau entitas kesukuan yang tersebar di wilayah ini yaitu Suku Aceh dan Suku Aneuk Jamee (bahasa Aceh: Tetamu; dari Minangkabau). Koloni tersebut membangun komunitas mereka terutama pada daerah pesisir khususnya muara-muara sungai setempat seperti Lama Tuha, Kuala Batu, Susoh, Suak, Lhok Pawoh dan Pasi Manggeng. Setelah itu untuk mengontrol dan menyatukan masyarakat di wilayah itu, Sultan Aceh mengangkat sedikitnya 5 uleebalang di wilayah ini yaitu uleebalang Susoh, Kuala Batee, Blangpidie, Tangan-Tangan (Lhok Pawoh Utara) dan Manggeng serta beberapa uleebalang cut seperti Bak Weu (Lembah Sabil), Pulau Kayu dan lain-lain.

Setelah ditandatanganinya Korte Verklaring antara beberapa uleebalang dengan Belanda pada 24 Februari 1874, wilayah yang saat ini merupakan wilayah ABDYA dimasukan oleh Belanda ke dalam bagian Gouvernement Atjeh en Onderhoorigheden (Pemerintah Aceh dan Bawahannya). Wilayah ini saat itu secara administratif berada di bawah afdeling Westkust van Atjeh (Kabupaten Aceh Barat: ibukotanya Meulaboh) dan termasuk wilayah pengawasan (controlegebied) dari onderafdeling (kewedanan) landschap Tapa Toean (Tapaktuan).

Wilayah ABDYA pada masa Hindia Belanda, terdiri dari beberapa zelfbesturende landschaapen (kecamatan yang dipimpin uleebalang dengan otonomi) yaitu Kuala Batu, Susoh, Blang Pidie (Blang Pedir), Lhok Pawoh Utara dan Manggeng. Di zaman penjajahan Jepang, struktur wilayah administratif tidak berubah kecuali penggantian nama dalam bahasa Jepang, seperti Afdeling menjadi Bunsyu, Onderafdeling menjadi Gun dan Landschap menjadi Son. Wilayah Afdeling Westkust van Atjeh pada masa pemerintahan Jepang disebut Nishi-Aceh Bunsyu (Kabupaten Aceh Barat).

BUMOE BREUEH SIGUPAI PASCA KEMERDEKAAN RI

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah (BPKNID) melakukan rapat pada 5 Desember 1945 di rumah Controleur (Wedana) Tapaktuan untuk membahas tuntutan adanya Kabupaten Aceh Selatan yang terpisah dari Kabupaten Aceh Barat. Kemudian dikeluarkan Keputusan Gubernur Sumatera No. 70 tanggal 28 Desember 1945 dan diumumkan kembali pada tanggal 15 Januari 1946 tentang pembagian Keresidenan Aceh menjadi 7 Luhak (Wilayah) yaitu Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat dan Aceh Selatan. Aceh Selatan saat itu beribukota di Tapaktuan.

Tidak lama setelah itu muncul ide untuk memindahkan ibukota kabupaten dari Tapaktuan ke Blangpidie. Pemindahan ini didasari atas faktor politik, ekonomi, budaya dan pendidikan. Apalagi daerah Blangpidie sejak dulu sudah berkembang pesat dan maju dalam sektor perdagangan seperti yang tersirat dalam lagu berjudul Aceh Selatan yang dinyanyikan oleh Syah Loetan, “Naksu Mita Peng Jak U Blangpidie, Naksu Meutani U Geunang Jaya” (Kalau mau cari uang datang ke Blangpidie, kalau mau bertani datang ke Geunang Jaya, Babahrot). Upaya pemindahan ibukota Aceh Selatan ke Blangpidie untuk sementara berhasil dilakukan. Pada tahun 1948, ditetapkanlah Blangpidie sebagai ibukota alternatif untuk Kab. Aceh Selatan. Hal itu ditandai dengan dipindahkan beberapa kantor dan fasilitas lainnya dari Tapaktuan ke Blangpidie termasuk pemancar telekomunikasi dan berbagai sarana lainnya. Namun, setelah agresi militer Belanda pada tahun 1949, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Sumatera Utara memutuskan untuk memindahkan kembali ibukota Aceh Selatan dari Blangpidie ke Tapaktuan.

Setelah itu, upaya pemindahan ibukota Aceh Selatan ke Blangpidie kembali berkembang lebih jauh hingga muncul usulan agar wilayah Blangpidie dan sekitarnya dijadikan satu kabupaten baru. UU Drt No. 7 Tahun 1959 dan UU No. 24 Tahun, membagi wilayah Aceh Selatan ke dalam tiga wilayah kerja Asisten Wedana (Pembantu Bupati) yaitu Blangpidie, Bakongan, dan Singkil. Asisten Wedana Blangpidie, membawahi lima Kecamatan, yaitu Kuala Batee, Susoh, Blangpidie, Tangan-Tangan, dan Manggeng.

Asisten Wedana Blangpidie saat itu Raden Soepeno mendukung dan berupaya kembali memekarkan wilayahnya menjadi satu kabupaten baru. Nama awal Kabupaten yang diusulkan ke pemerintah saat itu adalah "Kabupaten Kesatria". Nama ini diputuskan dalam rapat panitia dan tokoh masyarakat dari 6 kecamatan yang dipimpin oleh Tgk. M. Saleh Kapa. Nama Kesatria ini didasarkan pada upaya keras perjuangan pembentukan kabupaten ini yang sebelumnya sempat luruh pada awal tahun 1950-an dan baru muncul kembali pada tahun 1960-an.

Pada tanggal 10 November 1965 dibentuk panitia penuntut Dati II ‘Kesatria’ yang diketuai oleh R. Soepeno untuk memperjuangkan wilayah 6 kecamatan yaitu Kuala Batee, Susoh, Blangpidie, Tangan-Tangan, Manggeng dan Darul Makmur (kecamatan dalam wilayah Aceh Barat yang sekarang masuk dalam wilayah Kab. Nagan Raya) untuk dijadikan kabupaten baru dengan nama Kabupaten Kesatria.

Namun setelah keluarnya SK Bupati Aceh Selatan No. 13/111/1968 pada 18 Oktober 1968 yang menetapkan lima kecamatan (Manggeng, Tangan-Tangan, Blangpidie, Susoh dan Kuala Batee) menjadi Daerah Perwakilan Aceh Selatan dengan Ibukotanya Blangpidie, nama usulan nama kabupaten Kesatria diubah menjadi "Aceh Barat Daya" serta Darul Makmur dikeluarkan dari rencana wilayah kecamatan di Kab. Aceh Barat Daya.

Pada 2 April 1968, DPRDGR Kab. Aceh Selatan menerima dan mendukung sepenuhnya tuntuan Panitia Penuntut Kab. Aceh Barat Daya. Lalu, pada 5 Juni 1969, DPRDGR Kab. Aceh Selatan merekomendasikan kepada Pemerintah D.I. Aceh untuk mengukuhkan lima kecamatan dalam bekas asisten wedana Blangpidie menjadi Perwakilan Kabupaten Aceh Selatan di Blangpidie. Pada tanggal 6 Juni 1969, Gubernur D.I. Aceh mengukuhkan lima kecamatan tersebut menjadi Perwakilan Kab. Aceh Selatan yang dikepalai oleh seorang Pejabat Penata Praja sebagai Pembantu Bupati Aceh Selatan Wilayah Blangpidie.

Di tahun 1970-an hingga berakhirnya era orde baru, upaya pembentukan ABDYA masih terus digaungkan namun tidak terlalu intens bahkan cenderung redup. Upaya ini baru intens kembali pasca reformasi. Pada 3 Maret 1999, Pembantu Bupati Aceh Selatan Wilayah Blangpidie membentuk Panitia Lokal Peningkatan Status Wilayah Kerja Pembantu Bupati Aceh Selatan Wilayah Blangpidie menjadi Kab. Aceh Barat Daya. Untuk mendukung segera ABDYA lahir, pada tanggal 1-2 Mei 1999 diadakan Lokakarya (Workshop) tentang Profil dan Potensi Wilayah Calon Kab. Aceh Barat Daya di Blangpidie. Pada 2 Mei 1999, tokoh-tokoh masyarakat, ulama, dan tokoh pemuda mengeluarkan Pernyataan Sikap di lima Kecamatan tentang keinginan membentuk kabupaten otonom.

Setelah itu, pada 22 Mei 1999, Gubernur D.I. Aceh membentuk Tim Pembinaan Peningkatan Status Lembaga Dekonsentrasi dan Desentralisasi untuk melakukan pengkajian terhadap rencana membentuk kabupaten baru. Lalu pada 1 Juni 1999 Bupati Aceh Selatan, merekomendasikan kepada Gubernur NAD tentang peningkatan status Pembantu Bupati Wilayah Blangpidie. Pada 12 Juli 1999, DPRD Kab. Aceh Selatan menyetujui peningkatan status Pembantu Bupati Aceh Selatan Wilayah Blangpidie menjadi Kab. Aceh Barat Daya. Pada 19 Februari 2000, Gubernur NAD kembali mengusulkan kepada Mendagri agar menyegerakan pembentukan Kab. Aceh Barat Daya. Hingga akhirnya pada 10 April 2002 diterbitkan UU No. 4 tahun 2002 yang berisi tentang pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya yang awalnya terdiri dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Babahrot, Kuala Batee, Susoh, Blangpidie, Tangan-Tangan dan Manggeng. Saat ini kecamatan di Aceh Barat Daya berjumlah 9 kecamatan setelah dibentuknya Kecamatan Jeumpa, Kecamatan Setia dan Kecamatan Lembah Sabil.

Pada 8 Ramadhan 1443 H ini, Kabupaten Aceh Barat Daya genap berusia 2 dasawarsa. Sejarah pasang surut perjuangan pembentukan dan pembangunan ABDYA hingga saat ini menunjukkan semangat Rakyat ABDYA dalam menghadirkan kemandirian dan kesejahteraan di Bumoe Breuh Sigupai. Dalam momentum ramadhan ini kita berharap semoga ke depan semangat Sapeue Kheuen Sahou Langkah terus digelorakan oleh generasi penerus sehingga cita-cita bersama mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur diridhai oleh Allah SWT. Dirgahayu ABDYA.

***

Rozal Nawafil adalah Pemuda asal Blangpidie, Aceh Barat Daya; Praja Utama atau Mahasiswa Tingkat Akhir pada Prodi Manajemen SDM Sektor Publik Fakultas Manajemen Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

HIKAYAT BUMOE BREUEH SIGUPAI: DARI KESATRIA KE ABDYA



ACEHONE -  BLANGPIDIE


Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Barat Daya (Abdya) kembali menerima laporan dugaan kecurangan dalam pelaksanaan Pemilihan Keuchik Secara Langsung (Pilchiksung) 2022. 

Ketua YARA Perwakilan Abdya, Suhaimi SH mengatakan bahwa pihaknya kembali menerima tiga laporan tentang dugaan kecurangan Pilchiksung.

“Hari ini ada tiga orang gang datang ke kantor Yara Perwakilan Abdya untuk melaporkan dugaan kecurangan Pilchiksung,” ujar Ketua YARA Perwakilan Abdya, Suhaimi SH.


Laporan pertama, katanya, pihaknya menerima laporan adanya indikasi kecurangan terjadi di Gampong Tokoh 2, Kecamatan Lembah Sabil.


Persoalannya, adanya kelebihan suara, dari daftar pemilih yang hadir sebanyak 320 DPT, anehnya saat penghitungan suara, jumlah suara menjadi 321.


“Kita menduga, penggelembungan suara, sehingga ini harus diusut tuntas,” katanya. 

Laporan kedua, tambahnya, terjadi di Gampong Geulanggan Gajah, Kecamatan Kuala Batee.


Bahwa, kandidat terpilih,  sampai saat ini belum melampirkan ijazah SD, SMP, cuma dilampirkan ijazah paket C.


“Keaslian ijazah paket c pun masih diragukan, maka ini perlu kejelasan, khususnya penyelanggara, kenapa persoalan seperi ini bisa terjadi,” katanya. 

Terakhir, sebutnya, terjadi dugaan kecurangan di  Gampong Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie. 

“Persoalannya, ada dugaan penggelembungan suara, hasil perhitungan lebih suara sebanyak 6 suara,” pungkasnya.



Laporan Rahmat Saputra I Aceh Barat Daya


Dikutip dari serambinews.com



Yara Aceh Barat Daya Terima Laporan Kecurang Pemilihan Kecik Di Beberapa Daerah

Aceh One - Blangpidie, Pulau Kayu, 





Menjelang hari pencoblosan, Panitia Pemilihan Keuchik (P2K) Gampong Pulau Kayu Kecamatan Susoh Aceh Barat Daya menggelar acara  penyampaian visi misi dan program kerja bagi calon Keuchik,  Sabtu (20 Maret 2022

Acara yang digelar di lapangan bola kaki desa Pulau Kayu, acara tersebut dihadiri oleh Pj Keuchik  Gampong Pulau Kayu Bapak Aguslan, Ketua Tuha Peut, Tuha lapan dan seluruh Kandidat calon keuchik Pimpinan  Gampong Pulau Kayu Periode 2022-2028.  


Dalam kesempatan ini ada tiga calon kandidat yang akan bertarung untuk  merebutkan orang nomor satu di Gampong Pulau kayu dan untuk menarik perhatian masyarakat, masing-masing dari mereka telah menyusun program kerja untuk di sajikan kepada Masyarakat Desa Pulau kayu. 


Gelaran visi-misi dan program kerja bagi calon Keuchik tersebut dimulai pukul 15.00 WIB. Antusiasme warga untuk melihat paparan dari calon Keuchik sangat tinggi


Calon Keuchik

 Bapak Mukhlis Satria (Nomor urut 1), 


Bapak Idris (Nomor urut 2), 


Bapak Bustami.U (Nomor Urut 3) 


masing-masing telah mempersiapkan paparan program kerja unggulannya. 



Dilanjutkan sambutan dari Ketua Panitia Bapak Nazaruddin selaku ketua Panitia Pemilihan Keuchik (P2K) Gampong Pulau kayu, Ia mengatakan, kepada setiap kandidat yang akan bertarung dalam Pemilihan keuchik gampong Pulau Kayu mendatang untuk tidak menjelek-jelekkan kandidat lain serta tidak dibenarkan mengungkit keburukan Pemimpin yang lama sehingga para calon fokus pada visi dan misinya masing-masing.

Ketua P2K juga menegaskan tidak ada yang nama nya sogok menyogok atau moneypolitik dalam pemilihan Kechik gampong Pulau Kayu, Jika kedapatan Pihak Panitia akan memproses secara hukum bahkan dapat dinyatakan GUGUR.


Acara Pemaparan Visi misi Calon Kechik desa Pulau Kayu juga dibantu  oleh Mahasiswa dari KKN


Sumber Acehone.my.id

Penyampaian Visi Misi Para calon Keuchik Gampong Pulau Kayu

 


ACEH ONE - ABDYA | Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Al Munawwarah Dusun Pasir Gampong Pulau Kayu, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar acara peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1443 H/2022 M.

Dalam kegiatan tersebut, pihak Pengurus TPA Al Munawwarah bersama masyarakat juga mengadakan sejumlah perlombaan yang diikuti oleh seluruh santri-santriwan.

Disela-sela kegiatan, pimpinan TPA Al Munawwarah, Ustazah Hasanah menyebutkan, kegiatan tersebut mengusung tema “Menanamkan Cinta Allah dan Rasulnya dalam menghadapi kehidupan diakhir zaman”.

Dalam kegiatan ini, katanya, anak-anak diajak senantiasa mengenal Allah SWT dan Nabi-Nabinya melalui berbagai perlombaan yang bernuansa islami yang dinilai oleh juri yang berkompeten di bidangnya masing-masing.

“Malam ini pembukaan dan penutupan pada malam Senin depan, pada penutupan nanti akan ada ceramah agama oleh ustadz Armisli,” pungkas Ustazah Hasanah.

Berdasarkan pantauan, kegiatan pembukaan tersebut mendapatkan antusias dari santri-santriwan serta masyarakat setempat. Para panitia juga menerapkan protokol kesehatan dimasa pandemi Covid-19.(RED).

Dikutip dari noa.co.id

Acara Isra Miraj, TPA Al Munawwarah Aceh Barat Daya Tumbuhkan Cinta kepada Allah dan Rasul



ACEH ONE - Blangpidie - Pimpinan Cabang Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PC Tarbiyah-Perti) Aceh Barat Daya (Abdya) mengecam pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang menganalogikan suara adzan atau "bang" dengan gongongan anjing.

"Pernyataan Menag tersebut sangat melukai hati umat Islam, sehingga harus segera diralat dan meminta maaf kepada publik khususnya kepada umat Islam. Karena sangat tidak pantas menganalogikan suara adzan dan gonggongan anjing dengan alasan apapun", kata Ketua PC Tarbiyah-Perti Abdya Tgk H Muhammad Qudusi Syam Marfaly.

Menurut pria yang kerap disapa Abu Muda ini, meskipun mungkin Menag keseleo lidah, namun sudah seringkali ia mengeluarkan statement yang menyinggung hati masyarakat serta memicu kegaduhan dan polemik di tengah umat beragama.

"Pernyataan dan sikap Menag Yaqut yang demikian mencerminkan kepribadian dan pemikirannya yang "jahil muraqqab", sehingga sangat tidak layak ia menjabat sebagai Menteri Agama RI", ungkapnya.

"Untuk menyelamatkan Kemenag, Presiden harus mengganti Menag Yaqut dengan sosok yang lebih baik sebagai Menteri Agama RI", ujar Abu Muda.

"Menag Yaqut perlu kembali mengaji lebih dalam kepada ulama dan kiyai. Kami minta Bapak Presiden untuk menegur dan mengevaluasi Menag Yaqut,", tuturnya

Lanjut nya, umat Islam di seluruh dunia saat ini sedang mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan. Sudah cukup umat Islam berduka karena pelanggaran HAM yang dialami muslim India, ditambah pembatasan beribadah dan sikap tidak etis pejabat negara di negeri sendiri.

Pernyataan Menag Yaqut yang liar ini, dikhawatirkan justru akan merusak stabilitas kerukunan umat beragama, sehingga mengganggu konsen pemerintah mengentaskan permasalahan yang sedang dihadapi negara.

"Di tengah situasi seperti sekarang ini. Di saat covid-19 varian omicron belum reda, minyak goreng langka, ditambah deklarasi perang Rusia-Ukraina, jangan buat lagi masyarakat resah dengan hal yang tidak substansial” tutur Abu Muda Tgk Qudus.

"Perti Abdya mengajak dan memohon kepada semua pihak untuk lebih arif dalam berbicara. Jika tidak bisa maka diam lebih baik," pinta Abu Muda yang juga merupakan pimpinan Dayah Bustanul Huda Blangpidie.

Seperti diketahui, Menag Yaqut Cholil Quomas menerbitkan surat edaran yang mengatur penggunaan pengeras suara di masjid dan mushala. Saat diwawancarai di Pekanbaru Riau, Yaqut kemudian menjelaskan aturan tersebut dengan mencontohkan suara-suara lain yang dapat menimbulkan gangguan.

"Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa? Suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak jadi gangguan." ujarnya. (RNa)

Perti Abdya Kecam Menag Atas Analogi Adzan dengan Gongongan Anjing


ACEH ONE - Polda Aceh menyatakan 400 mahasiswa penerima beasiswa Pemerintah Aceh berpotensi menjadi tersangka. Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mempertanyakan alasan polisi hingga kini belum menetapkan tersangka aktor kasus tersebut.

Alfian mengatakan hasil audit kerugian negara kasus itu sudah keluar sehingga polisi seharusnya telah menetapkan tersangka pihak pemberi beasiswa. Dia mengatakan masyarakat masih ingat nama-nama aktor yang diduga terlibat dalam kasus itu.

"Seharusnya Polda Aceh segera menetapkan tersangka terhadap aktor dulu sehingga proses hukum berjalan dan siapa pun yang patut ditetapkan tersangka wajib diproses," jelas Alfian.

"Kalau hanya penerima yang tidak berhak saja yang mau ditetapkan tersangka maka patut diduga kasus tersebut telah disetir oleh para elite yang diduga terlibat," lanjutnya.

Menurutnya kasus itu tidak kunjung ada tersangka meski sudah tiga kali berganti Kapolda Aceh. Dia berharap polisi segera menuntaskan kasus yang merugikan negara Rp 10 miliar tersebut.

"Kami dari awal menilai kasus ini murni terjadi korupsi dan diduga kuat terlibat elit politisi. maka kita selalu berharap kepada Kapolda Aceh untuk menyelesaikan kasus korupsi tersebut secara utuh. Artinya siapapun terlibat, termasuk yang menikmati aliran dana hasil pemotongan wajib mempertangungjawabkan perbuatannya," terang Alfian.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy, mengatakan, kasus dugaan korupsi beasiswa yang ditangani Ditreskrimsus Polda Aceh itu telah dua kali disupervisi Bareskrim Polri dan KPK. Berdasarkan hasil diskusi materi perkara disepakati mahasiswa yang menerima beasiswa tapi tidak memenuhi syarat termasuk perbuatan melawan hukum.

"Apalagi dengan mereka bersedia dana beasiswanya dipotong oleh para Korlap, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka sebetulnya memahami dan menyepakati bahwa mereka menerima dana beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat sebagai penerima beasiswa," kata Winardy dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (17/2).

Winardy menjelaskan, pihaknya meminta mahasiswa yang menerima beasiswa tersebut mengembalikan uang yang diterima ke kas daerah. Bila tidak, mereka disebut memungkinkan ditetapkan sebagai tersangka.

"Penyidik menemukan ada lebih dari 400 orang mahasiswa yang berpotensi jadi tersangka karena menerima beasiswa tidak memenuhi syarat dan diketahui memberikan kickback kepada koordinator. Penyidik juga sudah memiliki daftar nama dan identitas ke-400 lebih penerima beasiswa tersebut," jelas Winardy.

Menurutnya, para mahasiswa itu memiliki niat untuk melakukan tindak pidana. Mereka disebut mengetahui tidak cukup syarat untuk menerima beasiswa tapi memaksakan diri dengan membuat kesepakatan dengan koordinator.

"Sebenarnya jumlah calon tersangka ini juga merupakan satu kendala dalam merampungkan kasus ini, di mana para penerima rata-rata mahasiswa," ujar Winardy.

Polda Aceh, kata Winardy, masih memberikan kesempatan kepada penerima beasiswa tak cukup syarat untuk mengembalikan dana beasiswa. Penyidik disebut bakal segera menuntaskan kasus tersebut.

"Penyidik lebih mengutamakan agar kerugian negara dikembalikan daripada menghukum para mahasiswa yang menerima beasiswa tidak sesuai persyaratan," bebernya.

400 MAHASISWA ACEH JADI TERSANGKA KORUPSI DIPERKIRAKAN 10 MILIAR

 


RENGGALI DAN SEULANGA

Hari Jadi Kota Takengon Ke-445th

Oleh : Aris Faisal Djamin, S.H

Sekretaris Umum Majelis Pemangku Adat Kesultanan Aceh Darussalam

 

Tekengon sekarang merupakan ibukota dari Kabupaten Aceh Tengah, negeri yang bersuku Gayo ini sudah mengalami perjalanan panjang dalam sejarah berdirinya. Setiap fase dialami dan dilewati dengan suka cita, hingga hari ini pada tanggal 17 Februari 2022 kota Takengon sudah berumur 445 tahun. Penetapan hari jadi kota Takengon dituangkan dalam Qanun Kabupaten Aceh Tengah Nomor 10 Tahun 2010.

Keberadaan suku Gayo di Aceh dalam sejarahnya terdapat beberapa versi, ada yang tertuang didalam Hikayat Raja Pasai dan ada pula berbagai penjelasan dari para ahli sejarah. Namun demikian sejarah tali darah antara Gayo yang dikenal gigih dan kuat dengan Aceh dijelaskan panjang dalam buku-buku sejarah Aceh dan Nasional, ibarat bunga Renggali dan Seulanga.

Dalam sejarah masyarakat Gayo dinukilkan bahwa Kerajaan Linge didirikan oleh Adi Genali pada tahun 1025 M. Meurah Adi Genali  berasal dari Imperium Rum, yang terdampar di Buntul Linge akibat tekanan dan pergolakan. Negeri Rum yang dimaksud adalah sebuah kerajaan yang memerintah di kawasan Turki sekarang. Disebutkan, pada kurun 1205-1453 terdapat komunitas muslim Rum yang berada dalam kehidupan keagamaan yang agak tertekan di bawah pemerintah Kerajaan Rum, sehingga sebahagian penduduknya memilih menyelamatkan diri ke Eropa Timur, seperti Tarkizistan, Turkistan, dan Ajerbaizan. [Dr Yusra Habib Abdul Gani, Gayo dan Kerajaan Linge. 2018; H. M. Zainuddin, Tarikh Aceh Nusantara. 1961]

Dalam cerita lainya menyebutkan bahwa suku Gayo adalah penduduk asli negeri Pasai yang lari ke hulu sungai Peusangan karena tidak mau masuk Agama Islam [Russel Jones, 1999’; Hill A.H 1960]. Kisah ini bermula saat Syeikh Ismail untusan Syarif Mekah datang ke Samudera Pasai atas perintah dari Sultan Muhammad (Raja Malabar cucu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq) dan mengislamkan Meurah Silu yang kemudian bergelar Malikul Saleh, kemudian Syeikh Ismail juga mengislamkan Seri Kaya dan Seri Bawa Kaya kelak diangkat diangkat menjadi menteri di Samudera Pasai, dengan gelar Sidi Chiatuddin dan Sidi Ali Hasanuddin. Orang-orang yang tidak mau masuk Islam berpindah ke hulu sungai Peusangan dan membuat negeri disana (boleh jadi negeri Gayo bagian Raja Bukit sekarang). [H. M. Zainuddin, Tarikh Aceh Nusantara. 1961]

Adapun demikian dalam sejarah diaspora puak Melayu disebutkan bahwa suku Gayo berasal dari golongan Melayu Tua yaitu bangsa yang pertama sekali menduduki negeri Aceh. Hal ini dibuktikan dengan penemuan pakar arkeologi di kampung Mendele, didekat tipi danau Laut Tawar, sejak 3000 tahun yang lalu sudah ada peradaban manusia bahkan didaerah Sebajadi berdekatan dengan Tamiang.

Peranan suku Gayo sangat besar dalam penyebaran Islam dan berdirinya kerajaan Aceh, maka tidak asing dalam catatan sejarah Aceh sering kali kita jumpai gelar “Meurah” seperti Meurah Mersa, Meurah Silu yang keduanya merupakan keturunan dari Meurah Makdum Malik Ishak yang merupakan raja pertama Negeri Isak Gayo. [Teuku Syahbudin Razi, Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh dan Nusantara]

Meurah Makdum Malik Ishak (raja pertama Negeri Isak Gayo) mempunyai anak bernama Meurah Malik Nasir, dari Malik Nasir ini melahirkan pemimpin beberapa negeri seperti Meurah Makdum Malik Ibrahim di Jeumpa, Meurah Bacang di Barus, Meurah Pupok di Daya, Meurah Jernang di Samalanga serta Meurah Putih  dan Meurah Itam di Meureudu.

Setelah sepeninggal Meurah Makdum Malik Ibrahim, Jeumpa di pegang oleh anak Malik Ibrahim bernama Raja Muhammad, dari Raja Muhammad dikaruniai seorang putri bernama Putroe Beutong, dan Putroe Beutong ini dinikahkan dengan Meurah Makdum Malik Abdullah yang tidak lain adalah anak dari Meurah Ahwal adik Raja Muhammad dengan kata lain nikah sepupu. Dari pernikahan inilah lahir seorang putra bernama Meurah Silu atau Sultan Malikul Saleh raja pertama Samudera Pasai.

Kelak dari trah Samudera Pasai ini lahir seorang putri bernama Sultanah Nahrisyah Malikul Zahir yang menikah dengan Sultan Alaiddin Husinsyah Abdullah Malikul Mubin yang merupakan keturunan ke 8 (delapan) dari Meurah Adi Geunali raja pertama Lingga Gayo. Dari pernikahan inilah dikarunia dua orang putera, yang pertama Sultan Alaiddin Inayatsyah (sultan ke delapan Darul Kamal) dan Sultan Sulaiman Nur (raja pertama di Pidie). Terakhir dari trah ini pula akan tergabungkan antara Darul Kamal dan Meukuta Alam hingga nantinya berdiri pada tahun 1511 Kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah, hingga sampai dimasa keemasan pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Perjalan panjang ini memang banyak menuai pengkaburan sejarah, akan tetapi Renggali dan Seulangga tetap menjadi satu bagian yang tidak terpisahakan sampai kapanpun. Selamat hari jadi Kute Takengen yang ke-445 (17 Februari 1577-2022), semoga terus berjaya, semoga Allah berikan keberkahan dalam umur sejarah yang panjang ini, semoga terus terjalin hubungan baik antara Renggali dan Seulanga, dan abadi selama-lamanya.

 

 

RENGGALI DAN SEULANGA | Hari Jadi Kota Takengon Ke-445th


ACEH ONE - Banda Aceh  - Masyarakat Kabupaten Aceh Selatan segera menggelar kenduri raya di Kota Banda Aceh, seluruh warga Aceh Selatan di ibu kota provinsi Aceh dan sekitarnya diharapkan hadir meramaikan kegiatan tersebut.

"Kegiatan kenduri raya ini kita laksanakan dalam rangka menyambung kembali silaturahmi sesama masyarakat Aceh Selatan," kata Bupati Aceh Selatan Tgk Amran, di Banda Aceh, Sabtu (5/2).

Kenduri raya masyarakat Aceh Selatan ini dilaksanakan pada hari Minggu (6/2/2021) pukul 09.00 WIB, di yayasan (asrama) Naga Sakti di kawasan Lampineung Kota Banda Aceh.

Amran mengatakan, perhelatan kenduri raya ini untuk memperkuat silaturahmi seluruh masyarakat yang sudah lama bahkan hampir puluhan tahun tidak berjumpa, karenanya ini menjadi momen untuk berkumpul bersama.

"Kita menyambung kembali tali persaudaraan masyarakat Aceh Selatan, serta mengenang kembali tokoh Aceh Selatan yang dulu juga pernah berjuang bersama," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Bupati Amran juga mengundang seluruh masyarakat Aceh Selatan yang ada di Banda Aceh dan sekitarnya baik di Aceh Besar dan Sabang untuk menghadiri kegiatan silaturahmi ini.

"Nantinya kita juga berharap adanya masukan dan saran dari masyarakat semuanya demi kemajuan Aceh Selatan kedepannya, dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat," kata Bupati Amran.

Bupati juga menyampaikan kegiatan ini terlaksana atas sumbangsih dari semua unsur masyarakat Aceh Selatan

"Sumber dana kegiatan ini sumbangan bersama dari seluruh masyarakat Aceh Selatan baik di daerah hingga  di perantauan," kata Dedy

Kemudian, lanjut Tgk Amran, mengingat masih dalam kondisi pandemi COVID-19, kegiatan kenduri raya ini dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

"Kepada semua undangan juga kita harapkan untuk menerapkan prokes seperti memakai masker, mencuci tangan pada tempat yang telah disediakan," demikian Tgk Amran

sumber antra aceh

Masyarakat Aceh Selatan Gelar Kenduri Raya Di Banda Aceh


ACEH ONE - ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten meminta orangtua yang berdemonstrasi di depan gedung DPRD Aceh Utara, Kamis (3/2/2022) untuk menyerahkan data pesantren dan sekolah yang memaksa santri dan murid untuk ikut vaksinasi.

Kepala Hubungan Masyarakat, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Hamdani, per telepon, Jumat (4/2/2022) menyebutkan, jika ada data, maka pemerintah akan mengkaji langkah strategis agar tidak merugikan masyarakat.

“Prinsipnya sederhana, laporkan datanya ke kita, di pesantren atau sekolah mana yang dipaksa santri dan murid vaksinasi itu. Kita tegaskan tidak ada pemaksaan sama sekali,” kata Hamdani.

Dia menyebutkan, sosialisasi tentang vaksinasi untuk santri dan murid sudah pernah dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Syariat Islam Aceh Utara.

Bahkan, saat sosialisasi didampingi ulama di masing-masing kecamatan.

“Saat sosialisasi semua orangtua sepakat anaknya divaksin atas kerelaan pribadi. Tanpa ada unsur paksaan. Kami pastikan, jika ada unsur pemaksaan itu tidak dibolehkan,” katanya.

Dia berharap, vaksinasi bisa berjalan lancar ke seluruh murid dan santri diatas usia 6 tahun. Sehingga meningkatkan imun dan dapat memulai pembelajaran tatap muka 100 persen di Aceh Utara.

“Kami imbau orang tua juga ikut vaksinasi, mengizinkan anaknya, ini untuk kebaikan semua kita dalam pandemi Covid-19,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Dayah, Aceh Utara, Abdullah Hasbullah tidak merespon persoalan demonstrasi itu. Dia hanya membaca pesan singkat yang dikirimkan lewat WhatsApp dan tidak memberi tanggapan.

Sebelumnya, kelompok orangtua dan santri berdemonstrasi di depan Gedung DPRD Aceh Utara. Mereka meminta vaksinasi tidak menjadi syarat administrasi di sekolah dan pesantren.

Mereka mengaku, anaknya dipaksa ikut vaksinasi oleh sekolah dan pesantren.

Jika tidak ikut vaksinasi anak mereka akan dikenakan sanksi seperti tidak boleh ikut ujian dan dikeluarkan dari satuan pendidikan.

Hingga aksi ini bubar, tidak ada perwakilan anggota DPRD Aceh Utara yang menerima para demonstran.

sumber kompas.com

"Laporkan Ke Kita Jika Ada Pemaksaan Vaksinasi di Pasantren Dan Disekolah" PEMKAB ACEH UTARA


ACEH - ONE
Warga Dusun Remaming, Kampung Simpang Empat, Kecamatan Bebesen, ACEH TENGAH digegerkan oleh penemuan tengkorak manusia. Tengkorak itu ditemukan saat warga kerja bakti.

"Tadi pagi warga menggelar kegiatan gotong royong rutin setiap Jumat. Ketika sedang membersihkan selokan warga menemukan tengkorak manusia," kata Kapolsek Bebesen Ipda Iwan AK kepada , Jumat (28/1/2022).

Iwan mengatakan warga awalnya mengira yang mereka temukan adalah kelapa. Namun, setelah dilihat lebih lanjut, warga disebut terkejut ketika mengetahui benda itu ternyata tengkorak.

Temuan itu dilaporkan ke Polsek Bebesen dan Muspika setempat. Warga kemudian melanjutkan membersihkan selokan serta dilakukan penyemprotan oleh pemadam kebakaran.

Iwan mengatakan pencarian kerangka manusia tersebut dihentikan siang tadi karena memasuki waktu salat Jumat. Pencarian rencana dilanjutkan seusai salat Jumat.

"Barang bukti tersebut dibawa ke RSUD Datu Beru Takengon untuk dilakukan autopsi," ujar Iwan.


Warga Aceh Temukan Tengkorak Manusia Saat Gotong Royong


ACEH - ONE
Mentri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian diminta berhati-hati saat menempatkan orang-orang yang akan menjadi kepala daerah, baik gubernur, bupati, atau wali kota di Aceh.

Pasalnya, Aceh merupakan daerah bekas konflik yang terjadi selama lebih dari 35 tahun. Untuk itu, calon penjabat (Pj) kepala daerah harus memahami karakter dan budaya masyarakat Aceh.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Aceh Utara, M Nazaruddin dalam acara diskusi di Aula Cut Meutia, Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, Jumat (28/1/2022).

“Jangan sampai Pj gubernur, bupati, wali kota ini menambah masalah baru di Aceh karena semata-mata tak memahami ini daerah bekas konflik dengan segala permasalahannya, mulai kemiskinan dan keamanan,” kata Nazaruddin seperti dilansir Kompas.com

Dia menyebutkan, pada Juli 2022 mendatang, sebanyak 17 bupati, 2 wali kota dan gubernur akan berakhir masa jabatannya dan digantikan oleh penjabat kepala daerah.

Masa jabatan penjabat kepala daerah akan berakhir setelah ditetapkan pemenang Pilkada pada 2024 mendatang.

“Untuk itu, diperlukan figur-figur terbaik, paham Aceh sepenuh hati dan punya iktikad untuk memajukan daerah yang porak karena perang dan poranda karena tsunami ini,” kata Nazaruddin.

Ketua Bawaslu Aceh Marini yang juga menjadi pembicara dalam diskusi menyebutkan, sebagai pengawas pemilihan umum, dirinya berharap siapa pun penjabat kepala daerah nantinya, harus bisa melihat Aceh secara khusus.

“Kita kan daerah khusus. Misalnya, daerah lain tak ada uji baca Quran, kita ada. Nah, ini satu bentuk kekhususan, maka penjabat kepala daerah harus benar-benar paham kekhususan Aceh,” kata Marini.


Mentri Dalam Negri Diminta Berhati Hati Menentukan Pejabat Kepala Daerah di Aceh


Pendaftaran Kartu Prakerja akan kembali dibuka tahun ini.

LIHAT DI HALAMAN RESMI PRAKERJA KLIK DISINI

Dalam artikel ini terdapat cara buat akunakun Kartu Prakerjamelalui laman resmi www.prakerjago.id

Dikutip dari Instagram @prakerja.go.id, kini pembuatan akun di situs Kartu Prakerja sudah dibuka dan dapat diakses kembali.

Peserta yang ingin mendaftar dan mengikuti seleksi Kartu Prakerja gelombang 23, harus membuat akun terlebih dahulu.

Pemerintah memastikan akan kembali melanjutkan program Kartu Prakerja pada 2022.

Total anggaran yang disiapkan pemerintah adalah sebesar Rp11 triliun untuk Kartu Prakerja 2022.

Adapun pesertanya, kuota yang disediakan antara 3 hingga 4,5 juta penerima.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pada semester 1 program ini masih akan menjalankan skema semi bansos dan di Semester 2 akan dijalankan secara hybrid, secara online dan offline.

"Di skema normal, tentu berupaya meningkatkan kompetensi dengan bantuan yang lebih besar dengan insentifnya juga."

"Didorong untuk pelatihan, sejalan dengan critical occupation list," jelas Airlangga dalam keterangan pers Penutupan Prakerja 2021, Rabu (15/12/2021), dilansir Tribunnews.com

Menko Airlangga juga mengatakan, untuk pembukaan gelombang 23 Kartu Prakerja masih dibahas lebih lanjut dalam rapat komite yang akan digelar dalam waktu dekat ini.

Calon peserta yang ingin mendaftar dapat memantau akun Instagram @prakerja.go.id secara berkala.

Sembari menunggu dibukanya pendaftaran Kartu Prakerja di 2022, simak cara dan syarat daftar di www.prakerja.go.id berikut.

Calon peserta yang ingin mendaftar dapat memantau akun Instagram @prakerja.go.id secara berkala.

Adapun cara pendaftaran Kartu Prakerja yang  kutip dari halaman frequently asked questions (FAQ) prakerja.go.id yakni:

1. WNI

2. Minimal berusia 18 tahun;

3. Sedang tidak menempuh pendidikan formal.

Kartu Prakerja merupakan bantuan pelatihan bagi masyarakat Indonesia yang ingin memiliki atau meningkatkan keterampilannya.

Semua WNI berusia 18 tahun ke atas dan tidak sedang sekolah atau kuliah, boleh mendaftar.

LIHAT SELENGKAP NYA DI WWW.PRAKERJA.GO.ID


Kartu Prakerja 2022 Segera Dibuka Lihat selengkapnya


ACEH - ONE
Anggota grup bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akan mulai melakukan kegiatan penambangan emas di Abong Linge Aceh Tengah.

Dikutip dari www.dunia-energi.com, BRMS melalui anak usahanya PT Linge Mineral Resources (LMR) mulai melakukan kegiatan penambangan emas di wilayah konsensi penambangan emas Linge Abong di Aceh dalam waktu dekat.

Proyek penambangan emas di wilayah seluas 36.429 hektar itu ditandai dengan perubahan terhadap dana proyek pengembangan usaha sebesar US$123 juta menjadi kepemilikan saham di PT LMR. Dana yang ditempatkan tersebut akan di reklasifikasi dari akun proyek pengembangan usaha menjadi akun aset eksplorasi dan evaluasi di neraca perusahaan.

Suseno Kramadibrata, Direktur Utama BRMS, menjelaskan bahwa manajemen sudah menyatakan komitmennya untuk bisa segera mengeksekusi proyek emas Linge Abong.

“Prospek emas di proyek Linge Abong dapat menambahkan nilai secara signifikan bagi para pemegang saham kami, sebagai tindak lanjut pengembangan proyek tambang emas kami di palu dan Gorontalo dalam dua tahun ke depan,” kata Suseno (30/12).

Saat ini berdasarkan data perusahaan cadangan terbukti emas yang siap diproduksikan oleh LMR tercatat mencapai 660 ribu ton. Sementara cadangan emas terkira mencapai 1,6 juta ton. Kemudian total jumlah sumber daya emas tercatat mencapai 6,8 juta ton.

[Sumber : www.dunia-energi.com]

Anggota grup bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akan mulai melakukan kegiatan penambangan emas di Abong Linge Aceh Tengah.



ACEH - ONE
Polda Aceh menggagalkan upaya penyelundupan 150 kilogram sabu, 145 ribu ekstasi dan 20 ribu pil happy five. Narkoba tersebut dipasok dari Malaysia dan hendak dikirim ke Aceh melalui jalur laut.

Penyelundupan tersebut berawal dari informasi masyarakat yang menyebutkan bahwa adanya transaksi narkoba di perairan Selat Malaka antara kapal nelayan dari Malaysia dan Indonesia.

Mendapat informasi itu, petugas gabungan dari Bea Cukai dan Polda Aceh menyisir perairan Selat Malaka dan mendapati satu unit kapal yang hendak menuju ke Aceh. Saat diperiksa kapal tersebut membawa narkoba "Transaksinya di Selat Malaka dan perairan bebas, jadi saat berlayar ke perairan Jambo Aye, Aceh langsung kita periksa dan menemukan narkoba dalam jumlah besar," kata Kapolda Aceh Irjen Pol Ahmad Haydar saat jumpa pers di Mapolda Aceh, Selasa (25/1). Selain barang bukti narkoba polisi juga mengamankan enam tersangka, tiga di antaranya awak kapal berinisial UH, MJ dan MK. Dari keterangan mereka narkoba tersebut akan diserahkan oleh pelaku lainnya berinisial DK dan RK yang sudah ditangkap di lokasi berbeda.Dari DK dan RK, narkoba selanjutnya akan diberikan oleh berinisial IS sebagai penampung barang haram tersebut, IS pun sudah ditangkap di Kabupaten Bireuen."DK yang berperan memerintahkan UH untuk mengambil narkoba itu ke perairan Malaysia, lalu akan diserahkan ke IS," katanya.

Dari keterangan tersangka, kapal yang membawa narkoba itu juga disuplai dari Medan, Sumatera Utara. Transaksi narkoba di Selat Malaka itu pun bukan kali pertama yang dilakukan para tersangka. Narkoba tersebut rencananya akan didistribusikan ke Medan lalu ke Pulau Jawa. Ahmad Haydar tidak menampik hingga saat ini perairan di pesisir Timur Aceh masih jadi gerbang masuknya narkoba karena banyaknya jalur tikus dan dekat dengan perairan bebas."Aceh jadi pintu masuk lalu ke Medan lanjut ke Jakarta. Banyak jalur tikus dan dekat dengan perairan bebas jadi mudah bertransaksi," ujarnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya keenam tersangka akan dijerat dengan pasal 114 ayat (2) pasal 112 ayat (2) UU Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan paling lama 20 tahan dan terberat pidana mati.

150 Kg Sabu dan 145 Ribu Ekstasi dari Malaysia Gagal Masuk Ke Wilayah Aceh


ACEH - ONE 

Tren konsumsi lagu lokal Aceh di Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Peningkatan tersebut tercatat melalui Platform seperti Youtube Music sebagai tuan rumah musik di Indonesia, yang menunjukkan adanya pertumbuhan cukup signifikan pada lokal satu ini.


Dikatakan Oleh sebagian Komposer Music ACEH Khusus nya Aceh Barat Daya , peningkatan terjadi mencapai tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir, tercatat sejak tahun 2020 lalu.

"Lagu Aceh mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Kalau dilihat dari tahun 2020 - 2022, konsumsi jumlah lagu Aceh di Youtube naik hingga tiga kali lipat," kata Kreator Music ABDYA

Tren konsumsi lagu di Aceh cenderung berubah dari waktu ke waktu.

Perubahan tren konsumsi musik hingga saat ini mulai ke arah musik musik lokal.

Berdasarkan grafik dari platform digital musik streaming tersebut, posisi teratas berhasil ditempati lagu-lagu lokal dengan presentase mencapai 80 persen pada tahun 2021 - 2022.

Dilihat dari top Rating Platform Youtube  awal tahun 2020, 100 persen top chart itu lagu-lagu Nasional. Nah, pada tahun lalu, 80 persen top chart-nya diisi lagu-lagu lokal. Jadi memang masyarakat Indonesia, terutama muda-mudi Creator Youtube Music, semakin menggemari dan mengapresiasi lagu lokal,

Tingginya konsumsi lagu dangdut ataupun lokal lainnya saat ini juga tidak lepas dari kehadiran musisi-musisi baru ataupun artis pendatang baru dengan perkembangan tren lagu yang semakin relevan untuk masyarakat Aceh Khusus nya ABDYA

Oleh karena itu, pihaknya sendiri telah berupaya mendukung pertumbuhan tren tersebut dengan memberikan ruang kepada para musisi lokal agar terus berkarya.


Perkembangan Kreator Musik ABDYA Berkembang 80% Dua Tahun Terakhir Dan Menjadi Peluang Untuk Menghasilkan Pendapatan Di YouTube




ACEH - ONE
Petugas Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh menangkap dua pasangan muda-mudi non-muhrim yang sedang parkir di kawasan Ulee Lheue. Duasejoli itu diduga tengah asyik pesta sabu di dalam mobil.

Kasatpol PP dan WH Banda Aceh, Ardiansyah mengatakan, penangkapan itu berawal saat pihaknya melakukan patroli rutin pada Senin pagi, 24 Januari 2022. Dia bilang, saat itu ada satu unit mobil yang mencurigakan terparkir di kawasan Ulee Lheue arah Gampong Jawa.

Menurutnya, saat diperiksa, dalam mobil itu terdapat enam orang. Dua pasangan dan satu orang lagi laki-laki. Sementara satu orang lagi melarikan diri.

Dia mengatakan dua sejoli dan satu pria itu terindikasi mengkonsumsi sabu.“Satu orang kabur tinggal dua pasangan dan satu pria. Terindikasi (menggunakan sabu), dari barang bukti yang kita temukan, kita duga sabu,” kata Ardiansyah.

Sementara itu, untuk tindakan lebih lanjut, pihaknya sudah menyerahkan dua pasangan tersebut yang berinisial HI, AM, SI dan PF. Kasus ini ditangani pihak Polresta Banda Aceh.


Dua Pasangan Non Muhrim Ditangkap Lagi Asik Pesta Sabu Di ACEH


ACEH ONE
- BLANGPIDIE - Anggota DPRK, Julinardi meminta dinas kesehatan (Dinkes) setempat tanggung jawab atas insiden pingsannya Muhammad Aufar Marsha (8) seorang murid SDN 1 Blangpidie, seusai disuntik vaksin.

"Saya meminta dinas kesehatan harus bertanggung jawab atas insiden pingsannya murid SD ini," ujar Julinardi kepada Serambi, Sabtu (22/1/2022).

Permintaan itu disampaikan mengingat kondisi kaki kiri Aufar sata ini sulit digerakkan dan telah dirujuk ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh pada Jumat (21/1/2022) sore untuk penanganan lebih serius.

"Ini persoalan serius, dinas jangan lempar tanggung jawab, apalagi sampai menyalahkan korban, ini tidak baik," tegas politisi Partai Hanura tersebut.

Harusnya, lanjut Julinardi, dinas kesehatan memberikan pemahaman dan rasa aman kepada pasien dan keluarga pasien.

"Ini penting, agar pihak keluarga lebih nyaman dan tenang," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang murid SDN 1 Blangpidie, di Abdya, Muhammad Aufar Marsha (8) pingsan seusai mendapatkan vaksinasi yang digelar di Lapangan Persada Blangpidie, Rabu (19/1/2022).

Informasi yang diperoleh Serambi, anak dari pasangan Marhaban dan Firda itu datang bersama anak-anak lainnya ke lokasi vaksinasi di Lapangan Persada, sekira pukul 9:00 WIB.

Sekira pukul 10:00 WIB, Aufar mendapat giliran untuk disuntik vaksin.

Seusai divaksin, ia pun pergi menjumpai ibunya yang ikut menemani vaksinasi tersebut.

Selang beberapa menit, Aufar pun pingsa, tepatnya saat ia sedang menuju ke arah ibunya yang menunggu sertifikat vaksin yang terpaut puluhan meter dari lokasi tempat penyuntikan.

Melihat Aufar pingsan, petugas pun membawa Aufar ke rumah sakit menggunakan ambulance yang telah terparkir di lokasi.

Setelah sempat dirawat Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RSUTP), pada Jumat (21/1/2022) sore, Aufar dirujuk ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh.

Pihak Dinas kesehatan (Dinkes) Abdya menyatakan siap memfasilitasi seluruh biaya pengobatan Muhammad Aufar Marsha (8) seorang murid SDN 1 Blangpidie, yang pingsan seusai disuntik vaksin.

"Iya, kami memohon maaf, ada miskomunikasi, dalam persoalan ini," ujar Kepala Dinkes Abdya, Safliati SST Mkes saat dikonfirmasi Serambi, kemarin.

Safliati mengaku persoalan pingsan nya murid SDN 1 Blangpidie itu, telah ditangani pihaknya.

"Insyaallah, seluruh kebutuhan dan biaya keberangkatan dan pengobatan kita tangani, dan kita juga ada memberikan uang saku untuk keluarga," sebutnya.


Anak SD ABDYA Pingsan Usai Di Vaksin, DPRK Minta Dinkes Tanggung Jawab

 


 ACEH - ONE SEMMI Abdya 'Warning' Potensi Money Politic Di Ajang Pilchiksung


Pengurus Cabang (PC) Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mendesak pengawas Pemilihan Keuchik Langsung (Pilchiksung) setempat mengawal potensi money politik

Ketua PC SEMMI Abdya Akmal Al-Qarasie 

JAKARTA - Ketua PC SEMMI Abdya Akmal Al-Qarasie berharap kepada pengawas Pilchiksung setempat agar benar-benar mengawal dalam pelaksanaan pemilihan keuchik di 152 desa yang tersebar dalam wilayah Abdya, Sabtu (19/01/2022).

"Harapan kita masyarakat Abdya tidak terpengaruh dengan kandidat keuchik yang menjanjikan ada uang di hari pemilihan, tentu ini pembunuhan karakter," kata Akmal dalam keterangannya, Sabtu (19/01).

"Dalam terlaksana Pilchiksung di Abdya tentunya ini tugasnya pengawas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah setempat, oleh karena itu kami berharap pengawas harus bersikap adil dan terbuka kepada masyarakat," sambungnya

Money politik sambungnya, memang sudah menjadi rahasia umum di mata masyarakat sekarang, kalau dibiarkan begitu saja maka akan lahir pemimpin yang tidak benar. Oleh karena itu, agar masyarakat tidak tergiur dengan uang pengawas harus pro aktif.

"Kita mendesak bukan bermaksud apa-apa, kami berharap Pilchiksung ini berjalan dengan lancar dan money politik bisa diminimalisir, agar tercipta pemimpin-pemimpin yang pro dengan rakyat," terangnya. 

Dia juga menyarankan, supaya Pilchiksung berjalan khidmat jadi harus ada pencoblosan karena Negara kita demokrasi, jadi harus pakai sistem demokrasi.

"Kalau pemilihannya tidak ada pencoblosan saya rasa itu tidak demokrasi, lebih baik voting saja. Kalau memakai sistem yang di tetapkan oleh Pemda potensi  kecurangannya lebih besar, dan saya rasa ini kurang etis," pungkasnya.

Ketua PC SEMMI ABDYA Akmal Al-Qarasie mendesak pengawas Pemilihan Keuchik Wilayah ACEH BARAT DAYA