Gas Andaman Aceh Terkini: Pengembangan Blok South Andaman Jadi Sorotan, Aceh Dorong Manfaat Ekonomi Lebih Besar
BANDA ACEH INISIAL NEWS– Perkembangan proyek gas Blok Andaman di Aceh kembali menjadi perhatian publik. Hingga Agustus 2026, pembahasan mengenai pengembangan Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman masih menjadi salah satu isu strategis bagi masa depan energi dan perekonomian Aceh.
Lapangan Tangkulo yang dikelola Mubadala Energy diproyeksikan menghasilkan sekitar 300 MMSCFD gas. Dari jumlah tersebut, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN). Sementara sisanya dinilai memiliki peluang untuk mendukung pengembangan berbagai industri hilir di Aceh.
Selain gas, Lapangan South Andaman juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi bahan baku bagi pengembangan industri petrokimia, kilang, hingga berbagai sektor industri lainnya di Aceh.
Aceh Dorong Pengolahan Gas di KEK Arun
Salah satu isu yang masih menjadi perhatian Pemerintah Aceh adalah lokasi pengolahan gas.
Pemerintah Aceh mendorong agar gas dari Blok Andaman dapat diolah di darat melalui Onshore Receiving Facility (ORF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, bukan menggunakan fasilitas FPSO di lepas pantai.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf sebelumnya telah menyampaikan usulan tersebut kepada pemerintah pusat. Pemerintah Aceh menilai KEK Arun memiliki infrastruktur yang dapat menjadi basis pengembangan industri hilir migas dan memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah.
Namun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Juli 2026 menyatakan permintaan tersebut masih dalam pembahasan dan perlu dikaji dari sisi keekonomian. Pemerintah pusat ingin mencari skema yang memberikan keuntungan bagi semua pihak tanpa membuat biaya proyek menjadi terlalu tinggi.
Revisi PoD Menjadi Bagian Penting
Pemerintah Aceh dan SKK Migas sebelumnya telah menyepakati adanya ruang untuk melakukan revisi Plan of Development (PoD) Lapangan Gas Tangkulo.
Pemerintah Aceh menyatakan tidak menolak investasi Mubadala Energy maupun pengembangan Lapangan Tangkulo. Namun, sejumlah aspek dalam rencana pengembangan dinilai perlu diperbaiki agar proyek tersebut tidak hanya menghasilkan gas, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi Aceh.
Salah satu poin yang menjadi perhatian Pemerintah Aceh adalah skema bagi hasil. Pemerintah Aceh menyebut angka yang tercantum dalam PoD sebelumnya, yakni 4 persen untuk gas dan 6 persen untuk minyak, masih perlu ditinjau kembali. Aceh juga meminta adanya alokasi khusus minyak dan gas bumi untuk kebutuhan daerah.
Investor Mulai Melirik Industri Hilir di Arun
Potensi Gas Andaman tidak hanya menarik perhatian pemerintah. Sejumlah perusahaan juga mulai melirik peluang investasi industri hilir di KEK Arun.
Pemerintah Aceh menyebut terdapat perusahaan yang berminat membangun industri berbasis gas, termasuk rencana pengembangan pabrik metanol serta proyek likuefaksi LNG di KEK Arun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Gas Andaman berpotensi menjadi pemicu tumbuhnya ekosistem industri baru apabila pasokan gas dan kepastian pengembangannya dapat segera diwujudkan.
Pakar: Jangan Hanya Menjadi Proyek Energi
Pakar ekonomi energi Universitas Pertamina, A Rinto Pudyantoro, menilai keberhasilan pengembangan Blok Andaman seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau jumlah gas yang diproduksi.
Menurutnya, manfaat yang lebih penting adalah seberapa banyak industri baru yang dapat tumbuh, berapa banyak tenaga kerja Aceh yang terserap, serta seberapa besar perusahaan lokal dapat berkembang akibat keberadaan proyek tersebut.
Dengan demikian, pengembangan Gas Andaman diharapkan tidak berhenti pada kegiatan eksplorasi dan produksi gas, tetapi berlanjut hingga menciptakan hilirisasi, lapangan kerja, investasi baru dan pertumbuhan ekonomi Aceh.
Menunggu Kepastian Pengembangan
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa masa depan Gas Andaman Aceh kini sangat bergantung pada kepastian investasi dan keputusan mengenai skema pengembangan lapangan.
Pengamat energi menilai kepastian investasi menjadi faktor penting agar Lapangan Tangkulo dapat segera dikembangkan dan sumber daya gas yang ditemukan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah sekaligus mendukung kebutuhan energi nasional.
Bagi Aceh, proyek ini bukan sekadar persoalan produksi gas. Gas Andaman dipandang sebagai peluang untuk menghidupkan kembali kawasan industri, memperkuat KEK Arun Lhokseumawe dan membuka jalan bagi lahirnya industri turunan migas.
Karena itu, masyarakat Aceh kini menunggu bagaimana keputusan akhir pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, SKK Migas dan Mubadala Energy terkait lokasi pengolahan, skema bagi hasil, revisi PoD serta pemanfaatan gas untuk kebutuhan industri di Aceh.
Jika seluruh pihak menemukan skema yang memberikan kepastian investasi sekaligus manfaat ekonomi yang optimal, Gas Andaman berpotensi menjadi salah satu proyek energi paling penting bagi masa depan Aceh.
